Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Menjelang pesta demokrasi Pilkada serentak dan Pilpres 2019, beberapa pihak acapkali menjadikan rumah ibadah sebagai arena berpolitik.

Ulama asal Jawa Timur, Gus Sholeh MZ menyayangkan jika hal itu bisa terjadi. Pasalnya,
penggunaan rumah ibadah untuk berpolitik berpotensi memecah belah bangsa.

"Saat ini adalah tahun politik atau pesta demokrasi. Pesta demokrasi miris sekali, masjid dijadikan tempat politik praktis," jelasnya saat silaturahmi Takmir Maajid se-Jabodetabek di Islamic Center bertema 'cegah politisasi masjid', Kamis (3/5/2018).

Menurut Gus Sholeh, meskipun tak ada larangan kepada partai politik untuk memasuki rumah ibadah, namun politik praktis di dalam masjid dinilai tak etis.

"Jaga masjid kita dari politik praktis. Jaga persatuan, jangan cuman kepentingan sesaat. Setiap pembicaraan itu ada tempatnya," ujar Gus Sholeh.

Adapun pernyataan tersebut ia sampaikan dalam acara silaturahmi akbar Takmir Masjid se-Jabodetabek digelar di Islamic Center Bekasi, Jawa Barat, Kamis (3/5/2018) pagi. Kegiatan ini dikuti oleh ribuan jamaah dan mengambil tema 'Cegah Politisasi Masjid'

Sementara itu, Pengurus MUI Pusat KH Saiful Bahri meminta semua pihak agar tak mempolitisasi agama dan tak mengagamakan politik.

"Buatlah kebaikan di masjid, bukan kejelekan. Masjid adalah rumah Allah. Urusan duniawi saja ditegur apalagi mempolitisasi masjid dan mempolitikkan agama," tandasnya.

Di sisi lain, Ustaz Ruchul Ma’ani dari Institute of Leadership and Development Program yang memimpin acara Halaqoh Kebangsaan di gelaran tersebut menilai Takmir masjid berperan penting dalam menjaga sterilisasi rumah ibadah dari kegiatan politik.

"Ini adalah tanggung jawab bersama khususnya Takmir Masjid. Sebagai pelayan Masjid penting sebagai rumah Allah bukan rumah kelompok kepentingan. Takmir harus pandai menscreaning," tutup Ruchul.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1