Loading...
Loading...
KRICOM - Politikus PDIP, Masinton Pasaribu menilai wajar jika suara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno jeblok di sejumlah lembaga survei. Pasalnya, pasangan yang diusung oleh PKS, PAN, Gerindra, dan Demokrat ini sama sekali tak berprestasi.
Masinton menyebut, Prabowo-Sandi minim jam terbang di pemerintahan.
"Pak Prabowo kan belum pernah memimpin di pemerintahan. Kalaupun di tentara ya paling cuma sampai bintang tiga (Letjen) ya. Tidak jenderal penuh, bintang tiga pun juga dipecat atas putusan Mahkamah Luar Biasa loh," kata Masinton kepada Kricom di Jakarta, Rabu (26/9/2018).
Masinton melanjutkan, publik memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak bagus. "Pemimpin yang bekerja dengan hati dan tidak korupsi," ujar anggota Komisi III DPR ini.
"Sementara yang sebelah kan punya masa lalu yang buruk dan juga pernah dipecat," tambahnya.
Hal inilah yang menjadi pertimbangan publik sehingga tidak memilih Prabowo.
"Kan Pak Jokowi pemimpin yang antikorupsi dan bekerja sepenuh hati. Yang sebelah kan baru orasi heroik aja. Publik kan bisa melihat itu," pungkasnya.
Lembaga Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait elektabilitas dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) dan peta elektoral di pemilu legislatif.
Berdasarkan hasil survei, apabila pemilihan presiden diselenggarakan saat ini, siapa yang akan dipilih, responden yang menyatakan memilih Joko Widodo (Jokowi) sebesar 46,0%. Dan Capres Prabowo Subianto sebesar 22,0%. Kemudian disusul Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan angka 0,5%, dan Abdul Somad sebesar 0,3%.
Dalam survei tren capres, Jokowi mengalami kenaikan pada Juli sebesar 40,6% dan pada September menjadi 46,0%. Sementara Prabowo juga mengalami kenaikan pada Juli memperoleh sebesar 13,9% dan September menjadi 22,0%.
Masinton menyebut, Prabowo-Sandi minim jam terbang di pemerintahan.
"Pak Prabowo kan belum pernah memimpin di pemerintahan. Kalaupun di tentara ya paling cuma sampai bintang tiga (Letjen) ya. Tidak jenderal penuh, bintang tiga pun juga dipecat atas putusan Mahkamah Luar Biasa loh," kata Masinton kepada Kricom di Jakarta, Rabu (26/9/2018).
Masinton melanjutkan, publik memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak bagus. "Pemimpin yang bekerja dengan hati dan tidak korupsi," ujar anggota Komisi III DPR ini.
"Sementara yang sebelah kan punya masa lalu yang buruk dan juga pernah dipecat," tambahnya.
Hal inilah yang menjadi pertimbangan publik sehingga tidak memilih Prabowo.
"Kan Pak Jokowi pemimpin yang antikorupsi dan bekerja sepenuh hati. Yang sebelah kan baru orasi heroik aja. Publik kan bisa melihat itu," pungkasnya.
Lembaga Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait elektabilitas dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) dan peta elektoral di pemilu legislatif.
Berdasarkan hasil survei, apabila pemilihan presiden diselenggarakan saat ini, siapa yang akan dipilih, responden yang menyatakan memilih Joko Widodo (Jokowi) sebesar 46,0%. Dan Capres Prabowo Subianto sebesar 22,0%. Kemudian disusul Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan angka 0,5%, dan Abdul Somad sebesar 0,3%.
Dalam survei tren capres, Jokowi mengalami kenaikan pada Juli sebesar 40,6% dan pada September menjadi 46,0%. Sementara Prabowo juga mengalami kenaikan pada Juli memperoleh sebesar 13,9% dan September menjadi 22,0%.
0 Response to " "
Posting Komentar