Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
AKURAT.CO Politikus Partai Solidaritas Indonesia Rian Ernest menyindir isu yang diberitakan media tentang kompensasi penari Ratoh Jaroe yang tampil di upacara pembukaan Asian Games 2018 yang disinyalir bermasalah. Tetapi belakangan, panitia Asian Games 2018 menegaskan telah melunasi seluruh kompensasi kepada murid-murid sekolah yang dilibatkan menjadi penari.

"Mungkin di zaman @basuki_btp, para siswa yang belum dibayar honor tari Asian Games akan cegat gubernur di teras Balaikota. Sekarang?" kata Rian Ernest melalui akun Twitter @rianernesto.

Mengomentari cuitan Rian Ernest, peneliti politik dan kebijakan publik Saiful Mujani Research and Consulting Saidiman Ahmad tergelitik pula menyindir.


"Itu sekolah-sekolah benar-benar ketinggalan zaman. Mereka hidup di alam demokrasi dan transparansi, tapi mindset dan perilaku mereka masih tertinggal di zaman kegelapan Orde Baru," kata Saidiman Ahmad melalui akun Twitter @saidiman.

Pro dan kontra muncul setelah Rian Ernest menyindir gubernur Jakarta. Aris Hardy Halim yang memakai akun @halim_hardy membully Rian Ernest.

"Koplak si Ernest niih. Urusan honor penari kok dilempar ke gubernur. Tanya si Erik dong," kata dia.

Arie Wibisono yang memakai akun @Redstudio_id pun membully. "Kwalitas kader PSI neh, Asian Games honor belum dibayar malah nyalahin gubernur," kata dia.

Sementara @verdi_chan mengatakan Inasgoc sudah melunasi semua pembayaran penari lewat sekolah.

"INASGOC sudah bayar ke murid-murid yang ikut tari kemarin, lewat sekolah. Semua peserta tari itu murid sekolah yang di DKI, gubernurnya Pak Jokowikah? Apa perlu Pak Jokowi yang turun tangan terus gubernurnya kita petikemaskan saja, ide bagus juga sih itu. Yang ga punya kualitas siapa sekarang, hmm," kata dia.

Dibantah

SMA Negeri 23 dan SMA Negeri 78 Jakarta Barat membantah kompensasi pemberian Inasgoc sebagai uang honor untuk para murid yang menjadi penari Tari Ratoeh Jaro pada pembukaan Asian Games 2018, "Istilah honor itu tidak ada, yang benar adalah kompensasi atau apresiasi. Dari uang itu, kami disuruh mengelola untuk persiapan Asian Games sampai selesai," ujar Wakil Bidang Kesiswaan SMAN 78 Jakarta Barat Zainuddin di Jakarta.

Zainuddin mengatakan sejak awal meniatkan seluruh kegiatan yang diikuti murid dan sekolah dilakukan secara sukarela.

Sehingga menurutnya, pemberitaan mengenai sekolah menahan honor yang menjadi hak para murid penari Ratoeh Jaro tidak benar.

"Saya tidak sepakat itu dibilang honor, karena dari awal semua dilakukan secara sukarela, tidak pernah ada pembicaraan soal honor," katanya sebagaimana laporan Antara.

Kompensasi tersebut sudah dibahas dengan perwakilan beberapa sekolah yang terlibat dalam pelaksanaan Tari Ratoeh Jaro dan sepakat tidak mengurangi nilai kompensasi Inasgoc kepada para peserta.

Adapun kompensasi yang diberikan Inasgoc sejumlah Rp200 ribu per hari selama latihan di Gelora Bung Karno Jakarta Pusat.

Kompensasi tersebut diberikan Inasgoc lewat pennyelenggara acara Lima Arus dan baru diterima sekolah pada Selasa.

Uang kompensasi tersebut dikelola sekolah untuk konsumsi dan transportasi para penari yang berlatih selama 13 hari. Sementara itu, perihal uang kompensasi juga telah dibahas dengan perwakilan siswa dengan keputusan sebagian menginginkan kompensasi berupa pembuatan tas pinggang, namun sebagian menginginkan kompensasi dalam bentuk uang.

Menanggapi hal tersebut, Zainuddin mengatakan keputusan mencairkan uang kompensasi cukup disayangkan, karena tidak dapat diwujudkan dalam bentuk barang kenang-kenangan namun dirinya juga tidak menolak.

"Tidak masalah, kalau mereka mau nanti bisa dicairkan. Kami dan sejumlah sekolah lain sudah sepakat tidak akan mengurangi nilai (uang) kompensasi dari Inasgoc untuk murid-murid," kata dia.

Senada halnya dengan Wakil Bidang Kesiswaan SMAN 23 Jakarta, Edi Susilo mengaku kaget dengan pemberitaan soal sekolah yang menahan honor siswanya penari Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018.

Edi mengatakan, pihak Lima Arus memang telah melakukan kesepakatan dengan para siswi dan pihak sekolah terkait uang yang akan diberikan.

Namun, ia menyebut uang tersebut bukanlah uang honor, melainkan uang operasional selama para siswi berlatih menjelang Asian Games.

"Memang ada perjanjian kita akan dikirim uang selama tiga kali. Namun didalam perjanjian itu sama sekali tidak ada kata-kata honor, hanya operasional," ujarnya.

Edi tak merinci berapa jumlah uang yang diterima, namun kompensasi tersebut digunakannya untuk akomodasi para siswanya selama 12 kali berlatih di GBK plus satu kali tampil saat pembukaan Asian Games.

"Buat menyewa bus saja sekitar lima juta keluar. Kami pakai dua bus dan itu harus bus yang sesuai standar mereka, tidak bisa bus sembarangan. Belum lagi buat snek dan minum anak-anak. Itu semua kita pakai uang operasional," sambungnya.

Tak hanya sekolahnya saja yang belum memberikan sisa uang operasional kepada para penari, Edi mengatakan 17 SMA lainnya belum memberikan sisa uang operasionalnya.

Adapun 17 SMA lain di Jakarta yang muridnya terlibat dalam tarian Ratoh Jaroe yakni SMA 70, SMA 6, SMA 3, SMA 71, SMA 82, SMA 66, SMA 4, SMA 68, SMA 78, SMA 49, SMA 34, SMA 48, SMA 90, SMA 46, SMA 24, SMA Angkasa I Halim dan SMA Dian Didaktika.

Di kesempatan berbeda, Direktur Media dan Hubungan Masyarakat Inasgoc Ratna Irsana menyatakan kompensasi sudah dibayarkan melalui penyelenggara acara kepada sekolah yang berpartisipasi Tari Ratoeh Jaro.

"Inasgoc membayar lewat EO ke sekolah. Dari EO sudah membayar lunas dan kami punya semua dokumen dan bukti transfernya. Satu anak mendapat 15 dolar Amerika Serikat atau Rp200 sekali latihan. Latihan 15 kali, jadi sekitar Rp3 juta per anak," kata dia. []

    0 Response to " "

    Posting Komentar

    Iklan Tengah Artikel 1