Loading...
Loading...
Nama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan kencang diisukan maju bertarung dalam bursa Pemilihan Presiden 2019. Dalam isu yang berkembang, Anies maju sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden.
Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago memiliki pandangan perihal masuknya Anies dalam bursa Pilpres 2019. Jika Anies berkontestasi di Pilpres, menunjukkan ada budaya politik tak sehat yang terjadi di Indonesia.
"Kalau Anies, maaf, agak sulit. Ada habit tidak baik," katanya di Jakarta, Selasa (3/7/2017).
Menurut Pangi, kebiasaan tak sehat itu karena Anies tak meneruskan memimpin Jakarta hingga 2022. Hal itu mirip seperti yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) yang meninggalkan Jakarta dengan ikut berkontestasi dalam Pilpres 2014 silam.
"Maka tradisi Pak Jokowi yang tidak menuntaskan masa jabatannya selama lima tahun di DKI Jakarta, menjadi preseden buruk bagi demokrasi ke depan. Bagaimana mungkin masyarakat kita akan percaya dengan pemilu yang transaksional dan pragmatis seperti ini," ungkapnya.
Pangi mengingat betul ketika debat Pilgub DKI pada 2017 kemarin. Kala itu Anies dengan tegas menolak jadi capres dan memilih tetap menyelesaikan tugas di Jakarta.
Jika janji itu dilanggar, maka tingkat partisipasi warga untuk memilih pemimpin Jakarta dalam pesta demokrasi yang akan datang bisa merosot tajam.
"Saya masih ingat ketika debat, Anies dengan tegas menyatakan akan menyelesaikan masa jabatan selama lima tahun di Jakarta. Apakah itu akan dikhianati sendiri?" ucapnya.
Memang, kata dia, Anies punya peluang besar berkontestasi dalam gelanggang Pilpres 2019. Anies bisa saja dipilih Jokowi dan Prabowo sebagai cawapres pendamping. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, Anies bisa menyodok sebagai capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo.
"Anies bukan tidak mungkin ditarik Pak Jokowi. Karena kan Pak Jokowi pernah kasih pernyataan bahwa dia tidak akan ambil cawapres yang berbenturan dengan Islam," pungkasnya.
Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago memiliki pandangan perihal masuknya Anies dalam bursa Pilpres 2019. Jika Anies berkontestasi di Pilpres, menunjukkan ada budaya politik tak sehat yang terjadi di Indonesia.
"Kalau Anies, maaf, agak sulit. Ada habit tidak baik," katanya di Jakarta, Selasa (3/7/2017).
Menurut Pangi, kebiasaan tak sehat itu karena Anies tak meneruskan memimpin Jakarta hingga 2022. Hal itu mirip seperti yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) yang meninggalkan Jakarta dengan ikut berkontestasi dalam Pilpres 2014 silam.
"Maka tradisi Pak Jokowi yang tidak menuntaskan masa jabatannya selama lima tahun di DKI Jakarta, menjadi preseden buruk bagi demokrasi ke depan. Bagaimana mungkin masyarakat kita akan percaya dengan pemilu yang transaksional dan pragmatis seperti ini," ungkapnya.
Pangi mengingat betul ketika debat Pilgub DKI pada 2017 kemarin. Kala itu Anies dengan tegas menolak jadi capres dan memilih tetap menyelesaikan tugas di Jakarta.
Jika janji itu dilanggar, maka tingkat partisipasi warga untuk memilih pemimpin Jakarta dalam pesta demokrasi yang akan datang bisa merosot tajam.
"Saya masih ingat ketika debat, Anies dengan tegas menyatakan akan menyelesaikan masa jabatan selama lima tahun di Jakarta. Apakah itu akan dikhianati sendiri?" ucapnya.
Memang, kata dia, Anies punya peluang besar berkontestasi dalam gelanggang Pilpres 2019. Anies bisa saja dipilih Jokowi dan Prabowo sebagai cawapres pendamping. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, Anies bisa menyodok sebagai capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo.
"Anies bukan tidak mungkin ditarik Pak Jokowi. Karena kan Pak Jokowi pernah kasih pernyataan bahwa dia tidak akan ambil cawapres yang berbenturan dengan Islam," pungkasnya.
0 Response to " "
Posting Komentar