Loading...
Loading...
Pertemuan antara Alumni 212 dengan Joko Widodo (Jokowi) disebut-sebut belum tentu akan menguntungkan sang calon petahana dalam ajang Pilpres 2019 mendatang.
Pengamat politik Arbi Sanit bahkan menduga, pertemuan yang diselenggarakan di Bogor beberapa waktu lalu itu malah akan menjerumuskan Jokowi. Pasalnya, Alumni 212 dinilai tengah bermain politik dua kaki.
"Mereka inikan terpecah. Sebagian bertemu Jokowi di Bogor, sebagian tetap saja menentang. Jadi pasang kaki dua," kata Arbi kepada Kricom di Jakarta, Senin (30/4/2018).
Di satu sisi dia mendukung kebijakan Jokowi supaya sang Presiden seolah-olah didukung kelompok Islam.
"Jadi seolah Jokowi tertidur lelap, tapi dia mempersiapkan seperti melawan Ahok beberapa waktu lalu," papar Arbi. "Bukan lagi menusuk dari belakang, bisa darimana saja. Dari kepala juga bisa."
Arbi yakin, cara ini efektif untuk jatuhkan Jokowi. "Dulu Ahok tingkat kepuasannya 70 persen tapi yang milih cuma 40 persen," kata Arbi.
Dia menyarankan agar Jokowi mengontrol semua lawan-lawannya.
"Jadi mengawasi lawan yang sembunyi-sembunyi seperti 212. Kalau lawannya yang terang-terangan bisa dihadapi secara terbuka. Nah, yang sembunyi dan 'pura-pura' ini yang bahaya," tutupnya.
Pengamat politik Arbi Sanit bahkan menduga, pertemuan yang diselenggarakan di Bogor beberapa waktu lalu itu malah akan menjerumuskan Jokowi. Pasalnya, Alumni 212 dinilai tengah bermain politik dua kaki.
"Mereka inikan terpecah. Sebagian bertemu Jokowi di Bogor, sebagian tetap saja menentang. Jadi pasang kaki dua," kata Arbi kepada Kricom di Jakarta, Senin (30/4/2018).
Di satu sisi dia mendukung kebijakan Jokowi supaya sang Presiden seolah-olah didukung kelompok Islam.
"Jadi seolah Jokowi tertidur lelap, tapi dia mempersiapkan seperti melawan Ahok beberapa waktu lalu," papar Arbi. "Bukan lagi menusuk dari belakang, bisa darimana saja. Dari kepala juga bisa."
Arbi yakin, cara ini efektif untuk jatuhkan Jokowi. "Dulu Ahok tingkat kepuasannya 70 persen tapi yang milih cuma 40 persen," kata Arbi.
Dia menyarankan agar Jokowi mengontrol semua lawan-lawannya.
"Jadi mengawasi lawan yang sembunyi-sembunyi seperti 212. Kalau lawannya yang terang-terangan bisa dihadapi secara terbuka. Nah, yang sembunyi dan 'pura-pura' ini yang bahaya," tutupnya.
0 Response to " "
Posting Komentar