Loading...
Loading...
TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan disebutkan beberapa kali membicarakan pengganti Sandiaga Uno sebagai Wagub DKI Jakarta dengan sejumlah orang dekatnya. Sejumlah nama telah dibahas termasuk Wakil Ketua DPRD asal Fraksi Gerindra, Muhammad Taufik.
Seperti ditulis Majalah Tempo dalam artikel berjudul Saling Sabot ke Balai Kota yang terbit Senin 3 September 2018, nama yang dibahas antara lain bekas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said. Ada juga nama mantan Gubernur Jawa Barat dua periode, Ahmad Heryawan; dan eks ketua tim sukses Anies-Sandiaga, Mardani Ali Sera.
Dua orang yang mengetahui isi pertemuan itu bercerita bahwa Anies mengaku sebenarnya lebih sreg dengan Sudirman. Tapi, menurut sumber yang sama, Anies juga mengaku sudah berjumpa dengan petinggi PKS.
Dalam pertemuan itu, petinggi partai tersebut mengatakan calon pendamping Anies sebaiknya bisa membantu menjalankan tugas di DKI dan memiliki pengalaman sebagai administrator. Anies pun mengungkapkan bahwa petinggi PKS menyodorkan mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ahmad Syaikhu.
Menurut sumber yang sama, pertemuan itu juga membahas kemungkinan munculnya calon bermasalah. Anies, kata mereka, tak menyebut nama. Tapi semua yang hadir mafhum bahwa yang dimaksudkan adalah Muhammad Taufik yang pernah tersangkut kasus korupsi kala menjabat Ketua Komisi Pemilihan Umum DKI.
Tak mau calon yang dianggap bermasalah melaju, pertemuan itu kemudian menyepakati dua calon yang diajukan partai-sesuai dengan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah-akan disaring lebih dulu melalui proses penilaian kelayakan dan kepatutan sebelum diajukan ke DPRD Jakarta. Nantinya, kata dua sumber yang sama, nama yang masuk akan dibahas Komite Pencegahan Korupsi yang berada di bawah TGUPP.
Menanggapi itu semua, Anies Baswedan membantah. Dia menuding seluruh keterangan yang didapat Majalah Tempo itu adalah fiktif. “Saya ingin membantah apa yang ditulis Tempo,” katanya, Selasa 4 September 2018.
Anies Baswedan sendiri tak merespons pertanyaan yang diajukan Majalah Tempo sebelum berita dibuat. Kepada wartawan di Rawamangun, Anies menyatakan masih menunggu surat penetapan dari Presiden tentang pengunduran diri Sandiaga. Anies mengaku bisa bekerja sama dengan siapa pun pengganti yang disodorkan Gerindra dan PKS sebagai dua partai pendukungnya di pilkada lalu.
Adapun anggota Komite Pencegahan Korupsi TGUPP, Nursyahbani Katjasungkana, membenarkan adanya pertemuan. Tapi, menurutnya, itu tak membahas persoalan serius. "Hanya ngobrol-ngobrol," katanya.
Tapi, tentang skenario penilaian kelayakan dan kepatutan calon Wagub DKI Jakarta, dia berkata, "Kami ingin calon wakil gubernur bisa membantu mewujudkan pemerintahan yang bersih di DKI. Itu hanya terjadi kalau pengganti Sandiaga itu bebas dari kasus korupsi.”
Seperti ditulis Majalah Tempo dalam artikel berjudul Saling Sabot ke Balai Kota yang terbit Senin 3 September 2018, nama yang dibahas antara lain bekas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said. Ada juga nama mantan Gubernur Jawa Barat dua periode, Ahmad Heryawan; dan eks ketua tim sukses Anies-Sandiaga, Mardani Ali Sera.
Dua orang yang mengetahui isi pertemuan itu bercerita bahwa Anies mengaku sebenarnya lebih sreg dengan Sudirman. Tapi, menurut sumber yang sama, Anies juga mengaku sudah berjumpa dengan petinggi PKS.
Dalam pertemuan itu, petinggi partai tersebut mengatakan calon pendamping Anies sebaiknya bisa membantu menjalankan tugas di DKI dan memiliki pengalaman sebagai administrator. Anies pun mengungkapkan bahwa petinggi PKS menyodorkan mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ahmad Syaikhu.
Menurut sumber yang sama, pertemuan itu juga membahas kemungkinan munculnya calon bermasalah. Anies, kata mereka, tak menyebut nama. Tapi semua yang hadir mafhum bahwa yang dimaksudkan adalah Muhammad Taufik yang pernah tersangkut kasus korupsi kala menjabat Ketua Komisi Pemilihan Umum DKI.
Tak mau calon yang dianggap bermasalah melaju, pertemuan itu kemudian menyepakati dua calon yang diajukan partai-sesuai dengan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah-akan disaring lebih dulu melalui proses penilaian kelayakan dan kepatutan sebelum diajukan ke DPRD Jakarta. Nantinya, kata dua sumber yang sama, nama yang masuk akan dibahas Komite Pencegahan Korupsi yang berada di bawah TGUPP.
Menanggapi itu semua, Anies Baswedan membantah. Dia menuding seluruh keterangan yang didapat Majalah Tempo itu adalah fiktif. “Saya ingin membantah apa yang ditulis Tempo,” katanya, Selasa 4 September 2018.

Anies Baswedan sendiri tak merespons pertanyaan yang diajukan Majalah Tempo sebelum berita dibuat. Kepada wartawan di Rawamangun, Anies menyatakan masih menunggu surat penetapan dari Presiden tentang pengunduran diri Sandiaga. Anies mengaku bisa bekerja sama dengan siapa pun pengganti yang disodorkan Gerindra dan PKS sebagai dua partai pendukungnya di pilkada lalu.
Adapun anggota Komite Pencegahan Korupsi TGUPP, Nursyahbani Katjasungkana, membenarkan adanya pertemuan. Tapi, menurutnya, itu tak membahas persoalan serius. "Hanya ngobrol-ngobrol," katanya.
Tapi, tentang skenario penilaian kelayakan dan kepatutan calon Wagub DKI Jakarta, dia berkata, "Kami ingin calon wakil gubernur bisa membantu mewujudkan pemerintahan yang bersih di DKI. Itu hanya terjadi kalau pengganti Sandiaga itu bebas dari kasus korupsi.”
0 Response to " "
Posting Komentar