Loading...
Loading...
KRICOM – Pengamat politik Karyono Wibowo mendesak agar para kubu penantang Jokowi tak memberikan data yang ngawur hanya untuk mempengaruhi opini publik.
Menurut Karyono, kontrol terhadap kekuasaan tetapi datanya itu harus kuat. "Artinya tidak asal ngomong harus ada data-data yang kuat yang dapat dipertanggungjawabkan," kata Karyono di Jakarta, Jumat (14/9/2018).
Karyono mencontohkan soal anjloknya nilai mata uang rupiah, mestinya juga harus Arif menyikapinya.
"Benar bahwa terjadi pelemahan soal anjloknya nilai mata uang rupiah terhadap dolar itukan dipengaruhi kondisi global," terang pengamat dari Indonesia Public Institute ini.
Krisis yang terjadi di Turki dan Argentina, kemudian melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar dipicu perang dagang anatara amerika dan Tiongkok. "Lalu kemudian harus dilihat bahwa penurunan nilai mata uang rupiah itu tidak sama dengan kondisi 98, ini yang keliru ni, ini harus diluruskan," ucap Karyono.
Mereka membangun narasi bahwa akan terjadi 98 yakni nilai mata uang anjlok .
"Ini lebih pada propaganda politik dibandingkan sebuah analisis Ilmiah karena saya jamin pasti meleset ini. Apalagi kalau kemudian ada yang ngomong. Kata Rocky Gerung katanya enggak perlu dilengserkan Jokowi dengan lengsernya rupiah Jokowi pasti akan lengser sendiri. Itu terlalu gegabah analisis seperti itu," ucap Karyono.
"Yah saya khawatir aja meleset mereka analisisnya-analisisnya itu karena tidak sama melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar saat ini dengan kasus-kasus 98, jadi krisis 98 itu kurang dari satu tahun itu depresiasi rupiah terhadap dolar itu 600% dari angka 1 dolar itu Rp 2.350 rupiah sampai tembus angka Rp 16 ribu atau 600%. Sekarang menurunnya dari angka 13 ribu sampai atau katakanlah sampai 15 ribu kemarin itu, itu tidak sampai 20% sementara '98, 600%," ungkapnya.
Menurut Karyono, kontrol terhadap kekuasaan tetapi datanya itu harus kuat. "Artinya tidak asal ngomong harus ada data-data yang kuat yang dapat dipertanggungjawabkan," kata Karyono di Jakarta, Jumat (14/9/2018).
Karyono mencontohkan soal anjloknya nilai mata uang rupiah, mestinya juga harus Arif menyikapinya.
"Benar bahwa terjadi pelemahan soal anjloknya nilai mata uang rupiah terhadap dolar itukan dipengaruhi kondisi global," terang pengamat dari Indonesia Public Institute ini.
Krisis yang terjadi di Turki dan Argentina, kemudian melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar dipicu perang dagang anatara amerika dan Tiongkok. "Lalu kemudian harus dilihat bahwa penurunan nilai mata uang rupiah itu tidak sama dengan kondisi 98, ini yang keliru ni, ini harus diluruskan," ucap Karyono.
Mereka membangun narasi bahwa akan terjadi 98 yakni nilai mata uang anjlok .
"Ini lebih pada propaganda politik dibandingkan sebuah analisis Ilmiah karena saya jamin pasti meleset ini. Apalagi kalau kemudian ada yang ngomong. Kata Rocky Gerung katanya enggak perlu dilengserkan Jokowi dengan lengsernya rupiah Jokowi pasti akan lengser sendiri. Itu terlalu gegabah analisis seperti itu," ucap Karyono.
"Yah saya khawatir aja meleset mereka analisisnya-analisisnya itu karena tidak sama melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar saat ini dengan kasus-kasus 98, jadi krisis 98 itu kurang dari satu tahun itu depresiasi rupiah terhadap dolar itu 600% dari angka 1 dolar itu Rp 2.350 rupiah sampai tembus angka Rp 16 ribu atau 600%. Sekarang menurunnya dari angka 13 ribu sampai atau katakanlah sampai 15 ribu kemarin itu, itu tidak sampai 20% sementara '98, 600%," ungkapnya.
0 Response to " "
Posting Komentar