Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
JAKARTA, NNC - Pakar ekonomi internasional sekaligus president & Group Head Asean International Advocacy, Shanti Ramchand Shamdasani mengatakan, kondisi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan kondisi Indonesia di awal reformasi. Ketika itu, nilai tukar rupiah telah mengantarkan Indonesia pada krisis moneter.

"Karakter kenaikan dolar terhadap rupiah pada 1998 dengan 2018 berbeda. Pada 1998 sudah ada banyak bank yang bangkrut, tutup dan merger," kata politisi Partai NasDem ini, Rabu (5/9/2018).

Menurut dia, ada beberapa alasan utama yang bisa menjelaskan kondisi pelemahan rupiah terhadap dolar saat ini jauh berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1998.

"Kalau pelemahannya seperti di 1998, rupiah seharusnya mencapai Rp47.241 per dolar pada September 2018," ucapnya seperti dilansir Antara.

Kondisi lainnya yang membuat berbeda yaitu pada tahun 1998, cadangan devisa nasional hanya sekitar USD 23,61 miliar. Sedangkan pada tahun 2018, cadangan devisa nasional mencapai USD 118,3 miliar.

Kemudian, jika dilihat dari sisi inflasi, maka kondisi yang jauh berbeda juga terjadi. Pada tahun 1998, tepatnya pada Agustus 1998 terjadi inflasi sebesar 78,2 persen. Sedangkan, pada saat ini, inflasi pada Agustus 2018 hanya mencapai 3,2 persen.

Untuk mengatasi hal itu, tambah Shanti, pemerintah perlu menunda pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang masih dalam daftar perencanaan (pipeline), sehingga dananya bisa digunakan untuk menstabilkan rupiah.

"Saya usulkan, proyek-proyek yang tadinya sudah pipeline, belum dilaksanakan dan masih bisa diberhentikan, dihentikan dulu. Uangnya digunakan untuk mengamankan rupiah," katanya.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1