Loading...
Loading...
JAKARTA, JITUNEWS.COM - Nama Ratna Sarumpaet tentu kerap didengar masyarakat Indonesia. Sosok aktivis ini kerap melontarkan kritik untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Yang terbaru, ia menuding pemerintahan Jokowi memblokir dana nasabah untuk bantuan Papua senilai Rp 23 triliun. PSI heran atas tudingan Ratna itu.
Menanggapi tuduhan Ratna itu, PSI menyebut celotehan Ratna biasanya diikuti kegaduhan yang kosong. Bahkan karena tuduhan itu, Kemenkeu pun akhirnya sampai meminta klarifikasi World Bank untuk mengkalrifikasi tuduhan tersebut.
"Kami dengar celotehan Ibu Ratna, biasanya diikuti dengan kegaduhan yang kosong. Kali ini soal tudingan blokir rekening. Ada yang bilang dana diblokir, ada yang bilang pula dana hilang," ujar juru bicara PSI bidang hukum, Rian Ernest, kepada wartawan, Kamis (20/9).
Namun, ada yang membuat Rian heran atas sikap Ratna, apa itu?
Rian heran atas sikap Ratna yang asal menuding tanpa meminta konfirmasi lebih dulu. Di sisi lain, Rian heran atas perubahan sikap dan pandangan Ratna.
Menurut Rian, Ratna yang dulu kerap memilih mengkritik pemerintah lewat karya seninya, kini berubah dengan mengkritik dengan yang ia sebut kegaduhan kosong.
"Kami rindu Ibu mengkritik lewat seni. Ibu pernah melahirkan cerita drama tentang Marsinah di tahun 1994. Publik menikmati karya Ibu itu," ujarnya.
Perubahan Ratna itu pun membuat Rian penasaran. Ia pun bertanya sekaligus menyindir Ratna yang kini malah mendukung Prabowo Subianto di pilpres.
"Kami pun penasaran, Bu Ratna. Setelah dahulu Ibu membela Marsinah, mengapa kini Ibu mendukung seorang tentara yang dipecat karena tidak bisa mengendalikan anak buahnya?" ungkap Rian.
Seperti diketahui, baru-baru ini Ratna menuding Jokowi melakukan pemblokiran dana.
Kasus ini bermula dari salah satu nasabah, Ruben PS Marey, yang mendatangi Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC).
Ruben melaporkan bahwa pemerintah diduga melakukan pemblokiran sepihak atas dananya yang disimpan dalam salah satu bank di Indonesia.
Ratna sebelumnya juga menyebutkan dana tersebut merupakan swadaya untuk pembangunan di Papua. Ruben kemudian menyebutkan nominal yang ada di rekeningnya itu mencapai Rp 23,9 triliun.
Bantahan kemudian disampaikan Kementerian Keuangan. Menurut Kemenkeu, pihaknya hanya punya kewenangan menutup atau memblokir rekening milik kementerian/lembaga negara.
Yang terbaru, ia menuding pemerintahan Jokowi memblokir dana nasabah untuk bantuan Papua senilai Rp 23 triliun. PSI heran atas tudingan Ratna itu.
Menanggapi tuduhan Ratna itu, PSI menyebut celotehan Ratna biasanya diikuti kegaduhan yang kosong. Bahkan karena tuduhan itu, Kemenkeu pun akhirnya sampai meminta klarifikasi World Bank untuk mengkalrifikasi tuduhan tersebut.
"Kami dengar celotehan Ibu Ratna, biasanya diikuti dengan kegaduhan yang kosong. Kali ini soal tudingan blokir rekening. Ada yang bilang dana diblokir, ada yang bilang pula dana hilang," ujar juru bicara PSI bidang hukum, Rian Ernest, kepada wartawan, Kamis (20/9).
Namun, ada yang membuat Rian heran atas sikap Ratna, apa itu?
Rian heran atas sikap Ratna yang asal menuding tanpa meminta konfirmasi lebih dulu. Di sisi lain, Rian heran atas perubahan sikap dan pandangan Ratna.
Menurut Rian, Ratna yang dulu kerap memilih mengkritik pemerintah lewat karya seninya, kini berubah dengan mengkritik dengan yang ia sebut kegaduhan kosong.
"Kami rindu Ibu mengkritik lewat seni. Ibu pernah melahirkan cerita drama tentang Marsinah di tahun 1994. Publik menikmati karya Ibu itu," ujarnya.
Perubahan Ratna itu pun membuat Rian penasaran. Ia pun bertanya sekaligus menyindir Ratna yang kini malah mendukung Prabowo Subianto di pilpres.
"Kami pun penasaran, Bu Ratna. Setelah dahulu Ibu membela Marsinah, mengapa kini Ibu mendukung seorang tentara yang dipecat karena tidak bisa mengendalikan anak buahnya?" ungkap Rian.
Seperti diketahui, baru-baru ini Ratna menuding Jokowi melakukan pemblokiran dana.
Kasus ini bermula dari salah satu nasabah, Ruben PS Marey, yang mendatangi Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC).
Ruben melaporkan bahwa pemerintah diduga melakukan pemblokiran sepihak atas dananya yang disimpan dalam salah satu bank di Indonesia.
Ratna sebelumnya juga menyebutkan dana tersebut merupakan swadaya untuk pembangunan di Papua. Ruben kemudian menyebutkan nominal yang ada di rekeningnya itu mencapai Rp 23,9 triliun.
Bantahan kemudian disampaikan Kementerian Keuangan. Menurut Kemenkeu, pihaknya hanya punya kewenangan menutup atau memblokir rekening milik kementerian/lembaga negara.
0 Response to " "
Posting Komentar