Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
AKURAT.CO, Laporan media Asian Sentinel soal Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai sebagai fitnah keji. SBY dilaporkan telah melakukan pencucian uang Rp 177 triliun berkaitan dengan bailout Bank Century 10 tahun yang lalu.

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean lantas angkat suara. Ferdinand punya analisa politik siapa di balik laporan media asing ini.

Ferdinand Hutahaean beranggapan bahwa fitnah tersebut yang dilontarkan terhadap SBY dan Partai Demokrat diduga untuk menghancurkan nama SBY karena mendukung Parbowo Subianto.

"Tuduhan Asian Sentinel kepada @SBYudhoyono dan @PDemokrat patut diduga adalah bagian dari sebuah operasi yang MELIBATKAN PIHAK ASING untuk mengalahkan @prabowo pada pilpres 2019 dengan merusak menghancurkan nama SBY yang mendukung Prabowo.

Ini sinyal kuat tergadainya kedaulatan bangsa," kata Ferdinand dalam akun Twitternya @LawanPolitikJKW.

Tuduhan Asian Sentinel kpd @SBYudhoyono dan @PDemokrat patut diduga adlh bagian dr sebuah operasi yg MELIBATKAN PIHAK ASING untuk mengalahkan @prabowo pd pilpres 2019 dgn merusak menghancurkan nama SBY yg mendukung Prabowo.

Ini sinyal kuat tergadainya kedaulatan bangsa. pic.twitter.com/HD0CNoigDd— ????????FERDINAND HUTAHAEAN???????? (@LawanPoLitikJW) September 15, 2018

Tak hanya Ani Yudhoyono, Bahkan Ferdinand Hutahaean juga memposting potongan artikel mengenai penjelasan SBYyang dimuat di harian Rakyat Merdeka terkait bailout Bank Century.

Dalam penjelasan itu SBY menegaskan bahwa dia siap ditangkap dan dipenjara jika fitnah itu benar.

“Tangkap dan penjarakan saya kalau fitnah itu benar. Kalau tidak benar, saya tuntut yang mengeluarkan dan menyebarluaskan fitnah itu sebesar Rp 177 triliun,” Ucapan SBY dalam kutipan artikel itu.

SBY mempertanyakan mengapa politik saat ini harus dengan cara fitnah yang keji dan pembunuhan karakter terhadapnya. Bahkan, Ia curiga fitnah itu sengaja disebarkan untuk pemilihan umum 2019 ini.

“Apakah memang saya dianggap sebagai orang yang mengganggu kepentingan pihak-pihak tertentu di negeri ini? Apakah sebagai warga negara, saya tidak boleh menyampaikan pandangan dan pilihan politik saya? Apakah saya harus mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil, seperti di era penjajahan dulu, supaya saya tidak bisa berbicara dan melakukan kegiatan politik?,” kata SBY.

SBY mengungkap bahwa dugaan penyimpangan dan korupsi dalam bail-out Bank Century ketika Indonesia terdampak oleh krisis global 2008 dulu. Ia juga sudah melakukan berbagai langkah penanganan, baik yang bersifat politik maupun hukum.

Ditambahnya, yang bersifat politik, DPR RI telah membentuk Pansus dan melakukan langkah-langkah investigasi berskala besar dan telah menghasilkan sejumlah rekomendasi, bahkan dilanjutkan dengan pengawasan.

Sementara itu, KPK juga telah melakukan tugasnya, guna menindaklanjuti rekomendasi DPR RI, dan hasilnya juga sudah diketahui oleh publik.

“Meskipun itu bukan domain Presiden, dan bukan saya pribadi yang mengambil keputusan, berkali-kali saya katakan bahwa bailout Bank Century yang diambil oleh BI dan pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Keuangan, benar-benar untuk menyelamatkan perekonomian kita dari krisis ekonomi global. Tidak ada konspirasi jahat apapun di pihak negara, termasuk pemerintah,” tambahnya.

Gubernur BI Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga punya niat dan tujuan yang baik. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan Undang-Undang, mereka mesti mengambil keputusan dan kebijakan cepat agar tidak terjadi krisis di bidang perbankan, seperti yang terjadi di tahun 1998 dulu.

“Semuanya sah. Saya sangat yakin, tak ada penyimpangan hukum, apalagi korupsi, yang dilakukan Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani. Pak Boediono, Ibu Sri Mulyani, para mantan Menteri KIB dulu hampir semuanya masih ada. Bicaralah. Sampaikan kebenaran. Jangan takut,” lanjutnya.

SBY juga membandingkan penanganan kasus Bank Century dengan penanganan kasus-kasus besar yang lain.

“Dugaan penyimpangan BLBI jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Bank Century. Namun, masyarakat menilai sepertinya kasus ini mengendap atau menghilang. Padahal, yang diinginkan rakyat adalah keadilan, termasuk keadilan dalam penegakan hukum,” beber SBY.

SBY juga mengatakan dirinya tak mau latah mengatakan bahwa dimunculkannya isu Bank Century ini sebagai bentuk pengalihan isu.

Dilanjutnya, mengenang ketika Pilkada Jakarta 2017 berlangsung, dirinya dihajar bertubi-tubi lantaran dia berseberangan dengan pilihan penguasa.

“Yang saya alami sekarang ini sama dengan ketika Pilkada Jakarta 2017 lalu. Saya dihajar bertubi-tubi. Dari satu fitnah ke fitnah yang lain. Ketika saya datangi orang-orang penting di negeri ini untuk saya lakukan klarifikasi, semuanya menyangkal dan cuci tangan. Tapi, saya ini, bukan anak kecil,” ungkap SBY.

“Sampai sekarang masih saja ada yang menuduh SBY, Tim Sukses SBY dalam Pilpres 2009 dan Partai Demokrat, terima aliran dana yang besar dari Bank Century. Seratus persen itu fitnah. Yang memfitnah juga telah di jatuhi hukuman karena secara hukum tidak terbukti. Kenyataanya memang tidak ada aliran dana seperti itu,” tuturnya.[]

    0 Response to " "

    Posting Komentar

    Iklan Tengah Artikel 1