Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah mengaku sedih dengan perkembangan yang terjadi di internal Partai Keadilan Sejahtera. Dia mengaku khawatir tahun depan partai yang dipimpin Sohibul Iman bubar.

"Pagi-pagi membaca berita banyak caleg PKS yang mundur jadi sedih. Akan jadi apa partai ini di tangan pemimpin yang bermain-main mengelola partai. Saya khawatir tahun 2019 PKS tak ada lagi. Dibubarkan melalui pemilu. Sebagai pendiri dan deklarator tentu saya sedih," kata Fahri Hamzah yang ditulisnya melalui Twitter @Fahrihamzah. Setiap cuitan, kalimat Fahri Hamzah selalu diakhiri dengan #SavePKS.

Dia menyebut adanya permainan dan pembersihan di dalam organisasi itu.

"Permainannya nampak semakin kasar. Mulai dari pembersihan orang-orang yang dianggap dekat dengan mantan sekjen lima periode dan presiden PKS masa krisis @anismatta, terakhir caleg disuruh menandatangani surat pengunduran diri sini. Tinggal tulis tanggal selesai. #SavePKS," kata Fahri Hamzah.

Dia mengungkapkan kebijakan pimpinan PKS terakhir ini konon dilatari oleh kasus Fahri Hamzah.

"Karena saya dianggap tidak taat disuruh mundur nggak mau mundur sungguh naif dan dangkal sekaligus tidak paham aturan bernegara. Pejabat publik pilihan rakyat bukan harta benda partai," kata Fahri Hamzah.

Partai politik atas nama “petugas partai,” kata Fahri Hamzah, tidak boleh membuat aturan internal yang bertabrakan dengan UU. Sebab lama-lama bertentangan dengan konstitusi dan dengan alasan itu partai bisa dibubarkan. "Masak beginian aja pimpinan PKS Gak paham?" kata Fahri Hamzah.

"Maka hilanglah minat orang jadi caleg di PKS. Bagaimana berjuang habis-habiskan dengan tenaga dan harta, dengan keringat dan air mata, tapi dengan sepucuk surat yang sudah ditandatangani tiba-tiba orang diberhentikan? Apa manusia dianggap mesin yang tidak punya perasaan?" kata Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah juga mengungkapkan peristiwa ketika dia disuruh mundur dari PKS dan berakhir di meja hijau.

"Demikianlah waktu saya disuruh mundur, dengan enaknya pimpinan PKS mengatakan, “carilah alasan, antum pasti bisa menjelaskan.” Lalu kepada saya disodorkan sebuah surat pengunduran diri yang saya tidak tahu dibuat oleh siapa. Aneh tapi nyata! Yapi itulah kejadiannya," kata dia.

"Saya sudah menjelaskan beda jabatan publik dan jabatan partai. Jabatan partai silahkan dirampas kapan saja. Meskipun harus tetap melihat aturan partai dan UU yang mengatur kepartaian. Tapi jabatan publik itu diatur UU bukan AD/ART partai. Ini yg mereka Gak paham."

Atas pemecatan itu Fahri Hamzah melawan dan dia akhirnya menang di pengadilan. Tetapi, ternyata kasus belum selesai.

"Sekarang, setelah saya lawan pakai pengadilan akibat tindakan melawan UU ini (saya memakai gugatan perdata perbuatan melawan hukum) lalu kalah, mereka mengembangkan teori konspirasi dan pembangkangan, padahal mereka melanggar UU," kata Fahri Hamzah.

"Menang ada sebagian pimpinan PKS yang menganggap bahwa aturan berjamaah di PKS itu lebih tinggi daripada UU. Itulah awal dari pemahaman yang salah sehingga kader dianggap tidak perlu mengadu keputusan pimpinan dgn UU sebab ikatan partai dianggap lebih tinggi."

Fahri Hamzah mengaku sedih sekali dengan PKS. Dia mengungkapkan semuanya.

"Ini sisa pikiran dan mentalitas “underground” yang masih bercokol. Sehingga mengelola partai mau disederhanakan dasarnya hanya dengan “titah pimpinan” dan tidak melihat aturan UU dan Konstitusi negara. Jadilah keputusan konyol bertubi-tubi sampai sekarang. Sedih saya."

"Kenapa saya bilang “titah pimpinan” dianggap paling tinggi. Buktinya, sewaktu memecat saya, sadar ada kesalahan maka ada beberapa kali aturan internal partai diubah demi mencocokkan dengan kepentingan memecat saya. Di antaranya aturan tentang siapa yang melapor," kata Fahri Hamzah.

"Waktu saya tanya, “siapa yang melaporkan saya, mana bukti permulaan atas tuduhan pelanggaran disiplin organisasi, siapa saksi-saksi yang sudah diperiksa, kapan kejadian dan dimana, dan lani-lain,” mereka gak jawab surat saya, tapi aturan diubah “bahwa pelapor tidak diperlukan,” demikian Fahri Hamzah.

Aturan itu diubah dan tidak memberitahukan Fahri Hamzah sehingga dia bersurat beberapakali, sebab dalam AD/ART PKS ada aturan tentang “hak membela diri.”

"Lalu dengan apa saya membela diri kalau aturan yang berlaku tidak diberikan dan kemudian diubah diam-diam?" kata dia.

Fahri Hamzah menyebut PKS sekarang milik segelintir orang.

"Inilah yang terjadi. Partai ini akhirnya menjadi milik segelintir orang, dan kader hanya menjadi objek yang diminta ketaatannya saja dengan doktrin yang setiap hari dibanjirkan. Bagaiman saya tidak bersedih? Kezaliman takkan membuat tenteram sampai kiamat. Ini catatan kecil, kesedihan saya membaca orang-orang #MundurCalegPKS yang marak. Akhirnya partai yang saya ikut dirikan dan besarkan hanya begini jadinya. Berantakan oleh keputusan tidak karuan. Nanti saya akan tulis permainan dalam pencalonan #9CapresPKS . Sekian," kata dia.

    0 Response to " "

    Posting Komentar

    Iklan Tengah Artikel 1