Loading...
Loading...
Moeldoko berniat mundur dari Partai Hanura. Partai Gerindra menduga prospek buruk Hanura di Pemilu Legislatif 2019 nanti menjadi latar belakangnya.
"Di berbagai survei yang ada, Partai ini (Hanura) tidak lolos parliamentary threshold. Mungkin Pak Moeldoko tidak mau ikutan kalah," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Andre Rosiade, kepada detikcom, Selasa (3/7/2018).
Survei semacam itu pernah dirilis oleh lembaga Cyrus Network pada 18 April 2018 lalu. Ambang batas parlemen adalah 4% total suara sah nasional di Pileg. Saat itu, responden Cyrus Network hanya memberi elektabilitas 1,0%.
Dugaan Andre selanjutnya, Moeldoko mundur dari Hanura gara-gara prihatin memikirkan kondisi internal Hanura.
"Bisa saja Pak Moeldoko ini mundur karena melihat kondisi Hanura yang carut marut, ada konflik di internal Hanura, sehingga Pak Moeldoko mungkin pusing. Apalagi survei Hanura dibawah parliamentary treshold," tuturnya.
Atau bisa juga, duga Andre, Moeldoko kecewa dengan kinerja Fraksi Hanura di DPR yang gagal berkontribusi via parlemen. Namun Gerindra tetap mengapresiasi keputusan Moeldoko.
"Menurut kami, itu bagus. Kami apresiasi Pak Moeldoko fokus melaksanakan tugas beliau sebaga Kepala Staf Kepresidenan," ujar Andre.
Moeldoko yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Hanura menyatakan ingin keluar dari Partai itu. Dia ingin berfokus dalam tugasnya di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Saya secara individu, secara pribadi, nggak pernah terlibat urusan partai politik karena di samping saya sebagai dewan pembina, keterlibatan saya tidak ada pengaruh. Oleh karena itu, saya mempertimbangkan mengundurkan diri saja karena tugas di sini semakin banyak frekuensinya," kata Moeldoko, Senin (2/7/2018).
Eks Panglima TNI itu mengaku sudah menyampaikan niatnya mundur kepada Ketua Dewan Pembina Hanura Wiranto. Hanya, Moeldoko belum menyampaikan niatnya tersebut kepada sang Ketua Umum, Oesman Sapta Odang (OSO).
"Di berbagai survei yang ada, Partai ini (Hanura) tidak lolos parliamentary threshold. Mungkin Pak Moeldoko tidak mau ikutan kalah," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Andre Rosiade, kepada detikcom, Selasa (3/7/2018).
Survei semacam itu pernah dirilis oleh lembaga Cyrus Network pada 18 April 2018 lalu. Ambang batas parlemen adalah 4% total suara sah nasional di Pileg. Saat itu, responden Cyrus Network hanya memberi elektabilitas 1,0%.
Dugaan Andre selanjutnya, Moeldoko mundur dari Hanura gara-gara prihatin memikirkan kondisi internal Hanura.
"Bisa saja Pak Moeldoko ini mundur karena melihat kondisi Hanura yang carut marut, ada konflik di internal Hanura, sehingga Pak Moeldoko mungkin pusing. Apalagi survei Hanura dibawah parliamentary treshold," tuturnya.
Atau bisa juga, duga Andre, Moeldoko kecewa dengan kinerja Fraksi Hanura di DPR yang gagal berkontribusi via parlemen. Namun Gerindra tetap mengapresiasi keputusan Moeldoko.
"Menurut kami, itu bagus. Kami apresiasi Pak Moeldoko fokus melaksanakan tugas beliau sebaga Kepala Staf Kepresidenan," ujar Andre.
Moeldoko yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Hanura menyatakan ingin keluar dari Partai itu. Dia ingin berfokus dalam tugasnya di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Saya secara individu, secara pribadi, nggak pernah terlibat urusan partai politik karena di samping saya sebagai dewan pembina, keterlibatan saya tidak ada pengaruh. Oleh karena itu, saya mempertimbangkan mengundurkan diri saja karena tugas di sini semakin banyak frekuensinya," kata Moeldoko, Senin (2/7/2018).
Eks Panglima TNI itu mengaku sudah menyampaikan niatnya mundur kepada Ketua Dewan Pembina Hanura Wiranto. Hanya, Moeldoko belum menyampaikan niatnya tersebut kepada sang Ketua Umum, Oesman Sapta Odang (OSO).
0 Response to " "
Posting Komentar