Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menyatakan sikap untuk menutup kemungkinan berkoalisi dengan Jokowi. Sebab, presiden keenam tersebut mengungkapkan adanya hambatan yang dihadapi Demokrat dalam membangun koalisi. Salah satunya karena hubungannya dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang belum sepenuhnya membaik.

Merespon pernyataan tersebut, Wasekjen Golkar Sarmuji mengatakan bahwa SBY terlalu menggunakan perasaan dalam keputusannya itu. Menurutnya, tafsiran SBY mendahului fakta sebenarnya yang belum terungkap.

"Pak SBY terlalu perasa. Orang yang perasa kadang tafsirannya mendahului fakta," kata Sarmuji, saat dihubungi kumparan, Rabu (25/7).

Menurut Sarmuji, partai koalisi pendukung Jokowi masih membuka pintu untuk Demokrat bergabung. Namun, kata dia, sebelum pintu itu terbuka, SBY sudah menafsirkan sesuatu dan membuat keputusannya sendiri.

"Sebenarnya koalisi pendukung Pak Jokowi membuka pintu untuk Pak SBY. Hanya saja ketika pintu sedang dibukakan, Pak SBY menafsir pintu sedang ditutup karena melihat pintu setengah terbuka," ujarnya.

Sarmuji mengatakan, apabila Demokrat memutuskan untuk bergabung dengan Jokowi, maka akan menjadi jalan yang baik untuk memperbaiki hubungan kedua ketua umum partai itu. Namun sayangnya, Sarmuji menilai SBY telah menyia-nyiakan kesempatan baik itu.

"Jika Demokrat bergabung dengan koalisi Pak Jokowi seharusnya menjadi momentum tutup buku hubungan yang kurang baik dengan Bu Mega. Tapi kesepakatan itu tidak diambil oleh Pak SBY," pungkasnya.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1