Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial Rustam Ibrahimmenilai politikus Fahri Hamzah telah membuat tuduhan tidak main-main kepada Presiden Joko Widodo.

"Saya faham rasa frustrasi FH yang dalam beberapa bulan ke depan tidak lagi jadi anggota DPR. Tidak lagi jadi perhatian masyarakat dan segera dilupakan. Tapi tuduhan yang sangat serius kepada Presiden @jokowi tidak boleh dibiarkan, karena cenderung fitnah dan merusak nama baik Presiden," kata Rustam Ibrahim melalui akun Twitter @RustamIbrahim.

Rustam Ibrahim kemudian mengutip kembali pernyataan Jokowi bahwa kesabaran ada batasnya.‏

"Presiden @jokowi pernah berkata "sabar ada batasnya." Apakah Presiden masih bisa sabar dengan tuduhan Fahri Hamzah bahwa: "di antara dosa-dosa Jokowi adalah karena membiarkan berkembangbiaknya elemen anti Islam dan Islamophobia? Dan secara tidak langsung menuduh sebagai penyebab radikalisasi?" kata Rustam Ibrahim.

Rustam Ibrahim berpesan kepada calon presiden manapun untuk berhati-hati kalau mau memilih Fahri hamzah menjadi juru bicara atau timses.

"Saya hanya pesan bagi capres untuk lebih hati-hati jika milih Fahri Hamzah sebagai jubir atau timses. Nanti dia omong kosong pakai kata-kata kasar, tahu-tahu kontra produktif dan destruktif seperti 2014. Karena "daya rusak" FH besar, bisa-bisa langsung berikan kemenangan kepada "lawan." Dari PKS saja FH dipecat," katanya.

Menurut Rustam Ibrahim Jokowi dan tokoh-tokoh Islam jangan membiarkan Fahri Hamzah seenaknya membuat pernyataan menuduh bahwa "dosa-dosa Jokowi yang besar membiarkan berkembangnya elemen-elemen anti Islam dan Islamophobia melalui konflik ideologi.

"Ini tuduhan serius untuk dibiarkan begitu saja," kata dia.

Rustam Ibrahim menilai pernyataan Fahri Hamzah bukan lagi sekedar omong kosong yang memecah-belah bangsa, dari seorang yang menjabat wakil ketua DPR.

"Tapi juga tuduhan yang sangat serius terhadap Presiden @jokowi. Saya melihat Jokowi justru sangat dekat dengan banyak ulama," katanya.

Tadinya Rustam Ibrahim berpendapat ucapan Fahri Hamzah hanya kontraproduktif dan destruktif. "Misalnya menyebut Jokowi sinting karena mencanangkan hari santri telah menyumbang dukungan warga NU bagi kemenangan Jokowi 2014. Sekarang saya lihat tuduhan-tuduhan ini sudah sangat keterlaluan," katanya.

"Soal angka 7 juta orang datang ke Jakarta dari seluruh wilayah Republik, sebetulnya tidak banyak yang percaya. Yang berpikir secara rasional tahu persis bahwa angka 7 juta sama dengan jumlah pemilih seluruh wilayah DKI. Orang juga tahu jumlah tersebut tidak lebih dari ratusan ribu," Rustam Ibrahim menambahkan.

Hari ini, politikus Fahri Hamzah memenuhi janjinya untuk membuat cuitan dengan tagar #Dosa2Jokowi di Twitter. Cuitan Fahri Hamzah berisi tentang kecemasan-kecemasannya menjelang pemilu tahun 2019.

"Di antara #Dosa2Jokowi yang besar adalah karena membiarkan berkembangbiaknya elemen #AntiIslam dan #Islamophobia melalui medium konflik ideologi. 10 tahun presiden @SBYudhoyono tidak pernah kita terseret dalam narasi seperti ini. Radikalisasi ini berbahaya bagi NKRI," kata Fahri Hamzah menggunakan akun Twitter @Fahrihamzah.

"Silahkan bantah, tapi jika ada 7 juta orang datang dari seluruh wilayah Republik, melakukan protes atas ketidakadilan yang dirasakan oleh Ummat Islam akibat nuansa #AntiIslam dan #Islamophobia dalam kebijakan negara, maka itu bukan isapan jempol. Itu fakta. #Dosa2Jokowi," Fahri Hamzah menambahkan.

Fahri Hamzah menyebut pilkada yang lalu membuktikan bahwa akibat adanya anti Islam dan Islamophobia, masih nampak nuansa ideologis.

"Tapi, ada upaya membuatnya landai atau dilupakan. Menjelang #Pemilu2019 ada manuver #ProIslam dari rezim ini tetapi akan gagal. Kosmetika luntur oleh #Dosa2Jokowi," katanya.

Menurut Fahri Hamzah meski banyak tokoh Islam yang berubah pikiran tentang Presiden Joko Widodo, tetapi jika lingkar dalamnya terlalu militan dengan nuansa anti Islam dan Islamophobia, maka semua upaya ini akan sia-sia.

Fahri Hamzah mengatakan pandangannya memakai memakai terminologi Taubat Nasuha.

"Belum nampak #TaubatNasuha dari pemerintahan ini atas konflik ideologi yang mereka buat di awal kekuasaan mereka. Pencitraan dengan merekrut tokoh Islam dan ulama tidak mengobati luka yang sudah terlalu dalam. HRS masih di luar, ulama masih tersangka, dan lain-lain. #Dosa2Jokowi," katanya.

"Adilkah kita kalau menuduh pemerintah berkuasa sebagai pemicu konflik ideologi dan tumbuhnya paham #AntiIslam dan #Islamophobia? Tentu adil karena tugas keluasan adalah bertanggungjawab atas perkembangan masyarakat. 10 tahun masa SBY tidak pernah begini. #Dosa2Jokowi," Fahri Hamzah menambahkan.

Fahri Hamzah mengatakan menuliskan pandangannya tersebut agar antisipatif terhadap kemungkinan meruncingnya lapangan menjelang pemilu 2019.

"Apalagi pemerintah ini telah mendorong capres semakin sedikit. Jika calonnya hanya dua dapat dibayangkan runcingnya perbedaan," kata dia.

Fahri Hamzah mengajak waspada dengan upaya pemecahbelahan bangsa.

"Mari lawan semangat #AntiIslam dan #Islamophobia yang pernah tumbuh dan belum sirna. Semoga bangsa kita bersatu melawan upaya pecah belah. Wallahualam," katanya. []

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1