Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Hingga saat ini Wakil Preisden Jusuf Kalla (JK) menegaskan tak ingin maju dalam Pilpres 2019 dan memilih beristirahat dari dunia politik. Namun, Demokrat masih tetap menggodog rencana JK-AHY untuk Pilpres 2019 nanti.

Mantan politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul memperkirakan JK tetap tak akan mau disandingkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon presiden pada pilpres 2019 kelak.

Ia membeberkan alasan-alasan yang membuat JK enggan tersebut, yakni sakit hati, modal elektabilitas rendah, dan modal politik yang cekak. Apa maksudnya?

Untuk alasan sakit hati, Ruhut menyatakan hal itu terkait hubungan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Pilpres 2009 lalu. Kala itu, JK yang masih ingin duduk sebagai wakil presiden mendampingi SBY, justru ditinggal SBY dengan membentuk tim 8 untuk mencari kandidat pendamping dalam pilpres 2009 selain JK.

"Saya perkirakan JK pasti tidak mau. JK pernah dikesampingkan, sekarang ketika ada butuh baru SBY mendekati lagi," jelasnya via telepon, Senin malam (2/7) dilansir dari detik.com.

Alasan kedua adalah karena menurut beberapa lembaga survei, elektabilitas AHY masih rendah. Bagi Ruhut, karier politik AHY masih terlalu belia karena baru menapaki dunia politik pada Pilgub DKI 2016 lalu.

Data perhitungan elektabilitas AHY dalam survei Indobarometer yang dilakukan 15-22 April 2018, hanya mencapai 2,0 persen. Angka ini jauh berada di bawah elektabilitas Joko Widodo (40 persen) dan Prabowo Subianto (19,7 persen). Hasil survei lainnya pun tak jauh berbeda. Survei Charta Politica misalnya, menunjukkan elektabilitas AHY hanya mencapai 2,7 persen, kalah jauh dengan Jokowi dan Prabowo juga.

Ruhut menganggap elektabilitas AHY harusnya lebih tinggi jika sebelum menapaki Pilgub DKI 2016, SBY menjadikan AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Namun menurutnya, langkah SBY menyorongkan AHY tanpa mendudukkannya sebagai ketua umum pun masih kurang strategis.

Modal politik yang dikantongi AHY masih minim jika dibandingkan ketua umum parpol lain seperti Ketua Umum PPP Romahurmuzy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto.

"Apalagi pangkat terakhir AHY di militer baru sebatas mayor, itu kelasnya baru kapolsek kalau di polisi atau koramil kalau di militer. Itu kan sekelas kecamatan saja," ujar Ruhut.

Alasan ketiga mengapa JK tak mau berduet dengan AHY adalah karena alasan financial, di mana menurut Ruhut modal finansial AHY masih bergantung kepada SBY.

Meski laporan harta kekayaan AHY ketika mencalonkan diri pada pilgub DKI mencapai Rp 21 miliar, angka ini cukup spektakuler menurut Ruhut, mengingat AHY hanya tentara dengan pangkat akhir mayor.

Perlu diketahui, Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2015 Tentang Peraturan Gaji anggota TNI menyebutkan gaji seorang mayor hanya mencapai Rp 2,9 juta. "Tentu soal finansial tidak lepas dari bapaknya," ungkap Ruhut.

Namun saat itu, tepatnya pada 29 November 2016 lalu, Agus mengaku laporan kekayaan yang ia laporkan merupakan gabungan dari kekayaan istrinya, Annisa Pohan, yang seorang presenter di beberapa acara televisi dan mengelola bisnis batik dengan merk Alleira.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1