Loading...
Loading...
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai bahwa selama 20 tahun reformasi bangsa ini sistemnya sudah baik, seperti sistem demokrasi dan yang lainnya, tapi pemimpin yang belum baik.
"Maka kalau ditanya dalam 20 tahun apa yang sudah?, yang sudah itu perbaikan sistem. Jadi apa yang sukses, sistemnya udah baik. apa yang belum suskes, pemimpinnya yang belum baik," kata Fahri, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/5).
Menurut Fahri, sistem demokrasi sudah bagus karena dunia sudah mengakui bahwa sistem yang ada di Indonesia yang terbaik.
"Nama sistem kita ini canggih demokrasi, itu udah the best lah di dunia kita ini, karena punya sistem yang terbaik. Makanya kalau ada survey kenapa orang optimis dengan transisi kita, demorkasi kita, karena sistemnya baik," ujarnya.
Namun, kata dia, masih ada lubangnya yang masih belum baik, dan itu menjadi tugas selanjutnya untuk menutup setiap lubang yang masih menjadi permasalahan.
"Saya sering bilang, misal lubangnya apa? misal soal DPD bagaimana memfungsikan DPD. Kemudian dipilihnya dengan uang begitu besar, kewenangannya nggak ada. Selanjutnya bagaimana independensi judikatif. Saya menganggap kejaksaan agung itu harus lebih independen," ucapnya.
Selain itu lanjut Fahri, Presidensialismenya juga mesti diperkuat, termasuk juga partai politik. Ia mencontohkan, pembiayaan parpol misalnya mesti diatur lebih baik. Dan siapa yang harus membiayai partai politik.
"Ini namanya lubang-lubang yang harus kita tutup. Tetapi ini semua jadi berjalan lamban karena sistem kita ini cangih, namanya demokrasi," tukasnya.
"Saya sering mengumpamakan demokrasi itu seperti smartphone. Atau kalau kendaraan canggih seperti tesla, dan elektronik digital," sambung dia.
Akan tetapi kalau mobil canggih, kemudian supirnya kurang bagus, maka sistem yang sudah baik tidak akan berjalan dengan baik.
"Tapi kalau supirnya ini supir bajaj dengan segala maaf ya, karena kemampuan manuver yamg disiapkan oleh sistem ini nggak akan terlaksana," tegasnya.
"Kita punya smartpohone tetapi kalau kemampuan kita cuma nelpon sama SMS, akhirnya fitur lain nggak kepakai, itu lah demokrasi," tambah dia. []
"Maka kalau ditanya dalam 20 tahun apa yang sudah?, yang sudah itu perbaikan sistem. Jadi apa yang sukses, sistemnya udah baik. apa yang belum suskes, pemimpinnya yang belum baik," kata Fahri, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/5).
Menurut Fahri, sistem demokrasi sudah bagus karena dunia sudah mengakui bahwa sistem yang ada di Indonesia yang terbaik.
"Nama sistem kita ini canggih demokrasi, itu udah the best lah di dunia kita ini, karena punya sistem yang terbaik. Makanya kalau ada survey kenapa orang optimis dengan transisi kita, demorkasi kita, karena sistemnya baik," ujarnya.
Namun, kata dia, masih ada lubangnya yang masih belum baik, dan itu menjadi tugas selanjutnya untuk menutup setiap lubang yang masih menjadi permasalahan.
"Saya sering bilang, misal lubangnya apa? misal soal DPD bagaimana memfungsikan DPD. Kemudian dipilihnya dengan uang begitu besar, kewenangannya nggak ada. Selanjutnya bagaimana independensi judikatif. Saya menganggap kejaksaan agung itu harus lebih independen," ucapnya.
Selain itu lanjut Fahri, Presidensialismenya juga mesti diperkuat, termasuk juga partai politik. Ia mencontohkan, pembiayaan parpol misalnya mesti diatur lebih baik. Dan siapa yang harus membiayai partai politik.
"Ini namanya lubang-lubang yang harus kita tutup. Tetapi ini semua jadi berjalan lamban karena sistem kita ini cangih, namanya demokrasi," tukasnya.
"Saya sering mengumpamakan demokrasi itu seperti smartphone. Atau kalau kendaraan canggih seperti tesla, dan elektronik digital," sambung dia.
Akan tetapi kalau mobil canggih, kemudian supirnya kurang bagus, maka sistem yang sudah baik tidak akan berjalan dengan baik.
"Tapi kalau supirnya ini supir bajaj dengan segala maaf ya, karena kemampuan manuver yamg disiapkan oleh sistem ini nggak akan terlaksana," tegasnya.
"Kita punya smartpohone tetapi kalau kemampuan kita cuma nelpon sama SMS, akhirnya fitur lain nggak kepakai, itu lah demokrasi," tambah dia. []
0 Response to " "
Posting Komentar