Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Tokoh lintas Agama dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Yanto Jaya yang meminta pemerintah untuk mengesampingkan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam menangani kasus terorisme dalam satu pekan terakhir.

Konferensi Waligereja Katolik Indonesia (WKI), Romo Agus Ulahayanan yang salah satu gereja binaannya menjadi korban sasaran bom bunuh diri di Surabaya pun menyerukan hal serupa.

Romo Agus meminta pemerintah dan penyeru Hak Asasi Manusia (HAM) untuk pelaku teror mengedepankan asas keadilan. Pasalnya, apabila ada hak asasi maka ada kewajiban asasi. Bila salah satunya dilanggar, kata Romi Agus maka keadilan sudah tidak ada.

"Masalah HAM itu orang sering asal bunyi. Ada prinsip keadilan, hak asasi ada tapi ada juga kewajiban asasi. Kalau pelaku sudah melanggar hak asasi kehidupan orang maka dia pelaku kekerasan yang tidak adil, minimum dia dilumpuhkan agar tidak melakukan (merampas HAM) pada orang lain," kata Romo Agus Ulahayanan dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jalan Kenari Jakarta Pusat, Minggu (13/5/2018).

Dia pun meminta para pegiat HAM untuk terorisme agar tidak mengabaikan jumlah nyawa yang melayang. Menurutnya, tidak adil apabila jumlah segelintir (pelaku teroris) dapat membahayakan ratusan juta masyarakat Indonesia.

"Karena HAM (yang mendukung teroris) 200 sekian org diabaikan. Tolong berpikir adil lah. Terlalu banyak kita mendukung para pelaku teroris. Kita mendukung sama dengan memberi angin segar mereka," ujar Romi Agus.

Hal sama juga diucapkan oleh Lembaga Persahabatan Umat Islam (LPOI) KH Marsudi Suhud yang menyebut apabila aparat yang menegakkan hukum disebut melanggar HAM lantas bagaimana pelaku pengeboman yang menyebabkan melayangnya banyak nyawa.

"Kalau polisi disebut melanggar HAM lalu pelakunya disebut apa? Polisi melakukan pengamanan itu mengamankan itu menjaga jiwa. Menjaga ham korban," ujar KH Marsudi.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1