Loading...
Loading...
Menjelang pemilihan Presiden (Pilpres), Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA kembali mengadakan survei. Hasilnya, elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) makin goyah dan terus turun di bawah 50 persen.
Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, survei yang dilakukan pihaknya masih tetap menggunakan metode multistage random sampling. Pihaknya melakukan wawancara dan menyebar kuesioner kepada 1.200 responden.
“Hasilnya cukup mengejutkan, elektabilitas Jokowi terus melorot dan saat ini hanya mencapai 46 persen,” kata Ajie, Senin (14/5).
Peneliti LSI Denny JA, Ajie Alfaraby memaparkan survei terbaru mengangkat tema ‘Mengapa Jokowi Kuat, Namun Semakin Lemah?’ di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (14/5/2018). (Rihadin)
Meski begitu, Ajie menambahkan, elektabilitas Jokowi masih berada di urutan pertama. Sementara, calon Presiden lain seperti Prabowo Subianto berada di bawahnya.
“Dari penelitian kami, ada 12 nama calon yang digabung termasuk Prabowo dan semuanya baru bisa menandingi Presiden petahana dengan hasil 44,7 persen,” ujarnya.
Menurut Ajie, dengan jumlah elektabilitas yang didapat Jokowi sebagai petahana, angka tersebut belum aman. Sehingga, pada Pilpres 2019 nama Jokowi masih dikatakan goyah. “Strategi harus kembali dilakukan, untuk tetap menjaga elektabilitas Jokowi agar terus naik,” ungkap Adjie.
Ajie menambahkan, berkaca dari kasus sebelumnya, tingginya elektabilitas bisa terus anjlok terjadi pada Megawati pada pilpres 2004 dan Ahok pada pilkada 2017 kemarin. Saat itu, angka elektabilitas Megawati mencapai 40 persen namun kalah di tangan SBY. “Begitu juga dengan Ahok yang menjelang 11 bulan bisa meraih 45 persen, namun kalah saat pemilihan oleh Anies Baswedan,” imbuhnya.
Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, survei yang dilakukan pihaknya masih tetap menggunakan metode multistage random sampling. Pihaknya melakukan wawancara dan menyebar kuesioner kepada 1.200 responden.
“Hasilnya cukup mengejutkan, elektabilitas Jokowi terus melorot dan saat ini hanya mencapai 46 persen,” kata Ajie, Senin (14/5).
Peneliti LSI Denny JA, Ajie Alfaraby memaparkan survei terbaru mengangkat tema ‘Mengapa Jokowi Kuat, Namun Semakin Lemah?’ di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (14/5/2018). (Rihadin)
Meski begitu, Ajie menambahkan, elektabilitas Jokowi masih berada di urutan pertama. Sementara, calon Presiden lain seperti Prabowo Subianto berada di bawahnya.
“Dari penelitian kami, ada 12 nama calon yang digabung termasuk Prabowo dan semuanya baru bisa menandingi Presiden petahana dengan hasil 44,7 persen,” ujarnya.
Menurut Ajie, dengan jumlah elektabilitas yang didapat Jokowi sebagai petahana, angka tersebut belum aman. Sehingga, pada Pilpres 2019 nama Jokowi masih dikatakan goyah. “Strategi harus kembali dilakukan, untuk tetap menjaga elektabilitas Jokowi agar terus naik,” ungkap Adjie.
Ajie menambahkan, berkaca dari kasus sebelumnya, tingginya elektabilitas bisa terus anjlok terjadi pada Megawati pada pilpres 2004 dan Ahok pada pilkada 2017 kemarin. Saat itu, angka elektabilitas Megawati mencapai 40 persen namun kalah di tangan SBY. “Begitu juga dengan Ahok yang menjelang 11 bulan bisa meraih 45 persen, namun kalah saat pemilihan oleh Anies Baswedan,” imbuhnya.
0 Response to " "
Posting Komentar