Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Berbicara tentang orang Yahudi di berbagai negara, termasuk Indonesia, kerap berkonotasi atau cenderung negatif. Tentu banyak alasan di balik penilaian itu, termasuk sikap bangsa Yahudi terhadap warga muslim Palestina.

Namun, harus diakui bahwa tidak semua orang Yahudi bersikap arogan. Masih banyak orang Yahudi, baik secara pribadi maupun kelompok, yang sangat simpatik terhadap orang lain. Salah satu sikap positif itu pernah ditunjukkan oleh orang Yahudi di zaman perjuangan melawan Belanda.

Berdasarkan penelusuran, aksi Charles Mussry memang tidak banyak diketahui orang dan tercatat dalam sejarah, tetapi dia adalah salah satu orang yang gigih angkat senjata dan berperang ketika itu.

Kedatangan Charles di Surabaya, Jawa Timur, sebetulnya adalah sebagai pengusaha bengkel, tapi karena melihat banyaknya penindasan yang dilakukan Belanda terhadap Indoneisia, membuat ia terdorong untuk mengangkat senjata dan ikut berperang membela Indonesia.

Membantu memasok kebutuhan perang melawan penjajah
Kisah bantuan Yahudi juga dilakukan dalam hal pemasokan keperluan untuk perang di Balikpapan, Kalimantan Timur. Datang dengan Divisi 7 tentara Australia yang mendarat di Balikpapan, John Cohen lalu melakukan kerja sama dengan pemuda prokemerdekaan.

Karena hal tersebut, tentara keturunan Israel ini medukung kemerdekaan dengan cara menyediakan senjata untuk perang, menyebar pamflet berisi info keadaan perjuangan dan bersama Dr Ratulangi berjuang melawan kolonialisme Belanda.

Menyediakan pendidikan gratis untuk rakyat Indonesia
Pendidikan tentu menjadi barang langka untuk masyarakat Indonesia di zaman penjajahan. Karena dahulu yang bisa mendapatkan pendidikan hanya kaum bangsawan atau orang kaya.

Berangkat dari rasa prihatin akan hal tersebut, membuat Johanna Petronella Mossel mendirikan sekolah dagang swasta pada tahun 1925, yang tentu banyak menerima orang Indonesia daripada Belanda.

Perempuan keturunan Indo-Belanda berdarah Yahudi ini juga merupakan pejuang pergerakan nasional. Aksinya membela tanah air kita tetap dilakukan setelah Indonesia merdeka dan meskipun dicap sebagai pengkhianat oleh Belanda.

Ikut membentuk lembaga bantuan hukum di Indonesia
Kisah keturunan Yahudi bernama Daniel Lev ini sedikit berbeda karena ia tidak melakukan perang untuk membantu Indonesia. Berangkat dari sebuah penelitian yang dilakukan dan perhatian akan hukum dan hak asasi manusia (HAM), menjadikannya akrab dengan banyak intelektual negara kita.

Hal tersebut membuat dirinya ikut dalam merumuskan dan meletakkan dasar pembentukan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Indonesia bersama Adnan Buyung Nasution. Tidak berhenti di situ, Daniel Lev sering membagikan ilmunya tentang demokrasi dan HAM. Peran pentingnya tersebut tetap digunakan hingga sekarang.

Mengabdi untuk Indonesia meski tidak memiliki hubungan darah
Orang Yahudi lain yang mempunyai kisah heroik untuk Indonesia adalah Herbert Feith. Berawal dari ancaman tentara Jerman pada tahun 1939 membuat dirinya bersama keluarga harus berpindah dari Eropa.

Feith melanjutkan studi di Universitas Melbourne, Australia, dan belajar banyak tentang ilmu politik. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Feith pergi ke Indonesia.

Di Indonesia dia mengabdikan dirinya dengan bekerja sebagai pegawai negeri sipil sementara. Meskipun singkat tetapi dia sudah menemukan betapa rumit dan tidak efektif birokrasi pemerintah Indonesia di tahun 1950-an. Penemuannya pada saat itu tentu dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dengan kondisi saat ini, apakah lebih baik atau lebih buruk?

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1