Loading...
Loading...
Permintaan buku-buku Islam terus meningkat sejak ramainya kasus penistaan agama oleh BTP alias Ahok.
Salah satu parameter untuk membaca tren tersebut adalah pameran buku Islam, Islamic Book Fair (IBF).
Sebelum heboh ceramah Ahok di kepulauan seribu, pameran 2015 angka penjualan mencapai masih Rp109,5 miliar sementara pasca heboh kasus ahok pada 2016 angkanya meledak menjadi Rp112,6 miliar.
Setahun berikutnya, penjualan buku di ajang pameran ini mencapai Rp120,6 miliar.
Bisa dipahami jika melihat animo masyarakat yang berkujung ke IBF, padahal untuk IBF 2018, yang berlangsung mulai 18 hingga 22 April, pengunjung harus membeli tiket masuk Rp5.500.
Pengunjung berjejalan di arena pameran di Jakarta Convention Center, yang membuat berjalan dari satu stan ke stan lain tak bisa dilakukan secara leluasa.
Eko Budi Prasetyo, dari penerbit Pro-U Media, Yogyakarta, mengatakan maraknya buku-buku Islam mungkin terkait juga dengan keinginan masyarakat untuk menambah pengetahuan tentang agama.
"Tingkat keberagamaan atau relijiusitas orang makin besar. Di tengah rutinitas pekerjaan, orang butuh penyegaran dan bimbingan (dari sisi rohani). Makanya, video ceramah-ceramah agama di YouTube banyak ditonton," papar Eko.
"Saya kira, buku-buku Islam juga begitu. Makin banyak dicari," katanya.
Saat ditemui, ia membawa dua tas plastik berukuran cukup besar, berisi buku-buku yang ia borong dari arena IBF.
"Saya kan masih awam, jadi kalau tidak membaca, pengetahuan kita tentang agama tidak akan bertambah. Saya banyak beli buku tentang ibadah, hadis, buku doa, buku amalan beribadah sehari-hari, dan buku tentang kisah sahabat Nabi Muhammad," kata Maryani.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Buku-buku Islam: Permintaan meningkat, penerbit adu strategi gaet pembeli,
Salah satu parameter untuk membaca tren tersebut adalah pameran buku Islam, Islamic Book Fair (IBF).
Sebelum heboh ceramah Ahok di kepulauan seribu, pameran 2015 angka penjualan mencapai masih Rp109,5 miliar sementara pasca heboh kasus ahok pada 2016 angkanya meledak menjadi Rp112,6 miliar.
Setahun berikutnya, penjualan buku di ajang pameran ini mencapai Rp120,6 miliar.
Bisa dipahami jika melihat animo masyarakat yang berkujung ke IBF, padahal untuk IBF 2018, yang berlangsung mulai 18 hingga 22 April, pengunjung harus membeli tiket masuk Rp5.500.
Pengunjung berjejalan di arena pameran di Jakarta Convention Center, yang membuat berjalan dari satu stan ke stan lain tak bisa dilakukan secara leluasa.
Eko Budi Prasetyo, dari penerbit Pro-U Media, Yogyakarta, mengatakan maraknya buku-buku Islam mungkin terkait juga dengan keinginan masyarakat untuk menambah pengetahuan tentang agama.
"Tingkat keberagamaan atau relijiusitas orang makin besar. Di tengah rutinitas pekerjaan, orang butuh penyegaran dan bimbingan (dari sisi rohani). Makanya, video ceramah-ceramah agama di YouTube banyak ditonton," papar Eko.
"Saya kira, buku-buku Islam juga begitu. Makin banyak dicari," katanya.
Saat ditemui, ia membawa dua tas plastik berukuran cukup besar, berisi buku-buku yang ia borong dari arena IBF.
"Saya kan masih awam, jadi kalau tidak membaca, pengetahuan kita tentang agama tidak akan bertambah. Saya banyak beli buku tentang ibadah, hadis, buku doa, buku amalan beribadah sehari-hari, dan buku tentang kisah sahabat Nabi Muhammad," kata Maryani.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Buku-buku Islam: Permintaan meningkat, penerbit adu strategi gaet pembeli,
0 Response to " "
Posting Komentar