Loading...
Loading...
Pencetus tanda #2019GantiPresiden Effendi Saman mengungkapkan motivasinya memviralkan tagar itu. Dia bilang hastag ini bukan hanya tentang pertarungan Joko Widodo dan Prabowo Subianto jelang pemilu presiden.
"Yang perlu diingat bahwa tagar 2019 ganti presiden itu buka hanya untuk pertarungan Jokowi dan Prabowo. Tujuannya, saya ingin membangun demokrasi agar kita tidak saling bertengkar," ujarnya dalam acara bertajuk Gerakan #2019TetapJokowiPresiden di Jakarta Pusat, Sabtu (21/4).
Effendi ingin mendorong terciptanya poros baru di tengah-tengah masyarakat agar dinamika politik lebih berkembang.
"Gagasan yang saya lalukan ini bertujuan agar tidak terulangnya peristiwa lima tahun lalu. Pada saat itu para pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo saling benci. Serta saya menginginkan adanya poros baru," kata Effendi.
Menurut Effendi #2019GantiPresiden tak hanya viral di dalam negeri, tetapi sudah ke mancanegara.
"#2019GantiPresiden itu sudah saya organisir, sudah ada di luar negri, seperti Bangkok dan Turki. Itu adalah cara saya ambil peran," katanya.
Aksi #2019GantiPresiden pergerakannya sangat masif, tak hanya ramai di media sosial, tetapi juga sampai ke sablon kaos.
Presiden Joko Widodo sampai mengomentari. Jokowi bilang kaos tidak akan bisa mengganti Presiden. Yang bisa mengganti Presiden adalah rakyat.
Aksi #2019GantiPresiden dinilai tidak mengedukasi masyarakat. Tanda itu dinilai hanya ekspresi keluh kesah terhadap pemerintahan.
"Yang memviralkan hastag ini tidak memiliki gagasan baru. Saya menilai ini hanya bentuk keluh kesah yang tidak mendidik, tidak ada edukasi di dalamnya selain kebohongan," kata Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Immanuel Ebenezer dalam acara bertajuk Gerakan #2019TetapJokowi.
Tetapi dalam sistem negara yang menganut demokrasi, menurut dia, adanya ekspresi semacam itu merupakan hal yang wajar.
"Saya kritik yang menyampaikan hastag 2019 ganti Presiden. Akan tetapi jika ditanya apakah gerakan ini demokratis? Tentu iya," katanya.
Ebenezer menilai Jokowi sebagai seorang Presiden yang tidak anti kritik. []
"Yang perlu diingat bahwa tagar 2019 ganti presiden itu buka hanya untuk pertarungan Jokowi dan Prabowo. Tujuannya, saya ingin membangun demokrasi agar kita tidak saling bertengkar," ujarnya dalam acara bertajuk Gerakan #2019TetapJokowiPresiden di Jakarta Pusat, Sabtu (21/4).
Effendi ingin mendorong terciptanya poros baru di tengah-tengah masyarakat agar dinamika politik lebih berkembang.
"Gagasan yang saya lalukan ini bertujuan agar tidak terulangnya peristiwa lima tahun lalu. Pada saat itu para pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo saling benci. Serta saya menginginkan adanya poros baru," kata Effendi.
Menurut Effendi #2019GantiPresiden tak hanya viral di dalam negeri, tetapi sudah ke mancanegara.
"#2019GantiPresiden itu sudah saya organisir, sudah ada di luar negri, seperti Bangkok dan Turki. Itu adalah cara saya ambil peran," katanya.
Aksi #2019GantiPresiden pergerakannya sangat masif, tak hanya ramai di media sosial, tetapi juga sampai ke sablon kaos.
Presiden Joko Widodo sampai mengomentari. Jokowi bilang kaos tidak akan bisa mengganti Presiden. Yang bisa mengganti Presiden adalah rakyat.
Aksi #2019GantiPresiden dinilai tidak mengedukasi masyarakat. Tanda itu dinilai hanya ekspresi keluh kesah terhadap pemerintahan.
"Yang memviralkan hastag ini tidak memiliki gagasan baru. Saya menilai ini hanya bentuk keluh kesah yang tidak mendidik, tidak ada edukasi di dalamnya selain kebohongan," kata Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Immanuel Ebenezer dalam acara bertajuk Gerakan #2019TetapJokowi.
Tetapi dalam sistem negara yang menganut demokrasi, menurut dia, adanya ekspresi semacam itu merupakan hal yang wajar.
"Saya kritik yang menyampaikan hastag 2019 ganti Presiden. Akan tetapi jika ditanya apakah gerakan ini demokratis? Tentu iya," katanya.
Ebenezer menilai Jokowi sebagai seorang Presiden yang tidak anti kritik. []
0 Response to " "
Posting Komentar