Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Gerakan viral '2019 Ganti Presiden' dinilai akan membuat sebuah blunder besar yang justru membuat nama Joko Widodo (Jokowi) semakin populer dan membuatnya kembali berkuasa untuk periode kedua. Pasalnya gerakan yang digagas kubu oposisi tersebut tidak memberikan solusi bagi masyarakat.

Pengamat politik Arief Susanto juga menyebutkan, gerakan ini sama sekali tidak menjelaskan siapa calon yang diajukan untuk menggantikan Jokowi.

"Ada beberapa peluang. Peluang pertama adalah, sejauh mereka tak mampu memberikan alasan penggantinya. Ini sebenarnya sedang memberikan amunisi gratis bagi Jokowi untuk terus meningkatkan elektabilitasnya," kata Arief kepada Kricom di Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Arief melanjutkan, jika merujuk pada beberapa lembaga survei, tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi cenderung meningkat.

"Tidak menjadi suatu anomali kalau kepuasan terhadap kinerja meningkat, tapi dorongan untuk mengganti Presiden, itukan anomali," kata dia. ''Kecuali Anda bisa memberikan alasan yang masuk akal dan itu bisa ditemukan."

Namun, gerakan ini bisa menjadi pukulan balik bagi Jokowi, jika pemerintah tak bisa menunjukkan atau mengkonversi tingkat kepuasan yang tinggi dengan elektabilitas.

"Karena itu misalnya terjadi juga dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Tingkat kepuasan tinggi, tapi dia tak mengkonversi menjadi dukungan suara," paparnya.

Dengan konsentrasi yang besar pada konstelasi kekuasaan, bisa saja para politikus akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan.

"Ini yang kita khawatirkan dari merebaknya politik kebencian berbasis identitas dari tahun 2017 lalu," tutupnya.

0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1