Loading...
Loading...

Presiden Jokowi Dan Filosofi Sopir Mobil

Loading...
Loading...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengibaratkan jika Indonesia adalah mobil yang sangat besar.
Dalam mobil tersebut juga terdapat penumpang yang banyak dan memiliki beragam perbedaan.

Jalan yang harus ditempuh oleh mobil tersebut juga terjal, penuh lubang dan berbatu.

Untuk itu sebagai 'seorang sopir', Jokowi harus berhati-hati dalam membawa mobil tersebut agar selamat sampai tujuan.

Filosofi sopir dan mobil tersebutlah yang diresapi oleh Jokowi dalam memimpin negara Indonesia.

Maka, tak heran jika Jokowi yang sudah hampir 13 tahun tidak menyetir mobil, sering sekali menjadi sopir 'boogey' di Istana, baik di Jakarta atau di Bogor.

"Supaya enggak lupa," ujar Jokowi ketika tim Kompas.com mewawancarainya di Ruang Oval, Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (5/6/2017).

Seperti hanya yang terjadi pada hari Rabu (26/10/2016), ketika Jokowi menggunakan 'boogey', untuk 'mengangkut' Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan Ketua DPD RI kala itu, Muhammad Saleh.

Juga saat kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis Al Saud pada hari Rabu (1/4/2017), Jokowi juga tampak memegang kemudi boogey dengan Raja Salman di sampingnya.

Jokowi mengungkapkan jika menjadi sopir mobil bernama 'Indonesia' ini tidaklah mudah.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang besar dari berbagai sisi sudut pandang.

Dari sisi geografis, total luas Indonesia terbentang dari daratan hingga lautan mencapai 5,1 juta kilometer persegi.

Di dalamnya juga terdapat beragam suku yang menghuni luas berbagai pelosok di penjuru negeri.

Tiap suku memiliki bahasa yang berbeda-beda, bahkan, satu suku saja memiliki sub-bahasa yang berbeda-beda.

Tercatat ada sejumlah 1.100 bahasa lokal di Indonesia.

Penduduk Indonesia juga menganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda pula.

"Jadi, saya kira ini adalah takdir yang diberikan Allah kepada kita. Kodrat yang diberikan kepada bangsa Indonesia, ya beragam. Ini sudah menjadi hukum Allah yang patut kita syukuri," ujar Jokowi.

Dalam pengelolaan keberagaman itu, Jokowi perjalanannya dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Akhir-akhir ini muncul fenomena yang mengarah pada disintegrasi atau perpecahan bangsa.

Tersebar berbagai ujaran kebencian, fitnah, hoax, aksi kekerasan, intoleransi dan terorisme di bumi ibu pertiwi.

"Maka, yang paling penting adalah kesadaran bahwa kita ini beragam," ujar Jokowi.

Jokowi juga mengungkapkan jika tantangan bangsa tersebut merupakan bagian dari pembelajaran.

"Ya biasalah, kita menyetir mobil pun sama. Kadang berbelok, kadang menikung, kadang ada lubang kecil yang harus kita hindari, sama kayak kita menyetir saja," ujar Jokowi.

Menurutnya, kunci dalam melewati tantangan tersebut adalah dengan taat kepada 'rambu-rambu' yang ada.

"Yang paling penting kan aturan hukum, konstitusi, itu yang betul-betul kita pegang. Artinya kalau ada lampu merah ya berhenti. Lampu hijau jalan. Ada tanda dilarang berhenti, ya jangan berhenti," ujar Jokowi.

Rambu-rambu tersebut juga berlaku untuk para penumpang.

Tidak ada masalah bagi penumpang yang bisa diajak musyawarah soal tujuan berbangsa serta bernegara.

Namun, jika sudah ada 'penumpang' yang mengusik dasar negara, pemerintah tidak akan tinggal diam.

"Jika ada yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-kebinekaan, anti-NKRI, beda soal itu. Untuk hal mendasar, saya tidak ada kompromi. Tidak ada toleransi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Jokowi.

"Tujuan kita jelas seperti yang tertuang dalam konstitusi, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa dan seterusnya. Saya kira itu sangat jelas," lanjut dia.

Penggunaan sosial media yang kebablasan

Jokowi juga menyoroti jika fenomena yang hoax, ujaran kebencian, hingga fitnah tersebut adalah dampak negatif dari keterbukaan informasi.

"Enggak (karena tidak menghargai keberagaman). Ini karena keterbukaan dengan adanya media sosial," ujar Jokowi kepada Kompas.com.

Hal ini dikarenakan adanya kebebasan dalam menyampaikan informasi di media sosial yang terlalu terbuka.

Jokowi juga menyinggung mengenai dirinya yang kerap menyampaikan informasi melalui media sosial miliknya ketika bertandang dalam kunjungan kerja ke beberapa daerah.

"Saya sampaikan, misalnya, baru nge-trail nih di Papua, dan semuanya bisa melakukan itu," ujar Jokowi.

Namun adapula pengguna media sosial yang kerap mengemukakan pendapat pribadinya.

Pendapat itu terkadang mempertajam perbedaan dan mendapat respon yang tentunya juga berbeda-beda dari pengguna media sosial yang lain.

"Itulah kejadian yang sekarang ini. Kadang-kadang kita menyampaikan hal yang tidak benar di situ atau fitnah di situ. kadang-kadang orang yang menerima itu ada yang siap, ada yang enggak siap," ujar Jokowi.

"Masih ada sebagian kecil yang waswas, ada sebagian kecil yang masih tersinggung, ada sebagian kecil yang merasa adanya kabar seperti itu lalu membuat reaksi yang berlebihan, saya kira memang inilah ya keterbukaan yang kita hadapi," lanjut dia.

Kondisi tersebut, menurut Jokowi meniscayakan adanya potensi gesekan atau konflik horizontal.

Namun Jokowi meyakini bahwa masyarakat Indonesia akan belajar dari fenomena yang terjadi di masyarakat ini.

Jokowi juga mengungkapkan bahwa beberapa negara telah terlebih dahulu melalui fase ini.

Melalui pembelajaran ini, Jokowi berharap masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam berdemmokrasi.

"Kalau semua menyadari, kita akan semakin dewasa dan matang di dalam menghadapi fenomena fitnah, kabar bohong di media sosial. Kita bisa memferivikasi sendiri, mana yang benar dan bohong. Saya kira kita mengarah ke sana," ungkapnya.

Jika masyarakat semakin dewasa, maka pemerintah tinggal melakukan pendekatan yang tepat supaya pembelajaran berdemokrasi itu kian terwujud dan mengarah pada persatuan Indonesia.

Berita ini mengutip berita Kompas.com, berjudul, Fitnah, Ujaran Kebencian hingga 'Hoax' di Mata Jokowi..., dan 'Sopir' Jokowi dan 'Mobil' Indonesia...

0 Response to "Presiden Jokowi Dan Filosofi Sopir Mobil"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1