Menteri Susi: Menjaga Dunia Perikanan Perlu Reformasi dengan Disiplin yang Tinggi
Loading...
Loading...
Selain masalah illegal fishing, masih banyak masalah perikanan dunia. Bahkan kini mencapai over fishing, kebanyakan mengambil ikan dari laut, sehingga muncul dampak kerusakan ekosistem laut.
"Semua itu dunia perikanan harus dijaga dengan baik. Reformasi tinggi perlu dilakukan dengan disiplin yang tinggi dan berkesinambungan terus-menerus," kata Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia kepada Tribunnews.com, Senin (29/5/2017).
Pada tahun 2013, tahun terakhir di mana data lengkap tersedia, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengungkap 32 persen stok ikan dunia dieksploitasi di luar batas keberlanjutannya, naik dari 10 persen di tahun 1970-an.
Jumlah ikan yang tertangkap di laut telah cukup datar selama tiga dekade terakhir, namun pangsa stok ikan dunia yang dijarah terus menerus berkelanjutan.
Penangkapan berkelebihan bukanlah satu-satunya masalah. Polusi, terutama pupuk run-off, merusak banyak ekosistem laut.
Diperkirakan ada 5 triliun bit plastik di laut, dengan lebih dari 8 metrik ton barang bertambah setiap tahun.
Menjelang pertengahan abad ini laut bisa mengandung lebih banyak plastik daripada ikan menurut beratnya.
Demikian ungkap penelitian yang dilakukan untuk Ellen MacArthur Foundation.
"Apabila Indonesia melakukan reformasi dengan disiplin tinggi, hasilnya akan sangat bagus. Saat ini saja hasilnya sudah kelihatan dengan stok ikan di masyarakat naik 100 persen dalam waktu 2,5 tahun terakhir ini," kata Susi.
Jika nelayan mengambil berlebihan maka dalam jangka panjang mereka akan mendapatkan lebih sedikit sumber daya daripada yang mereka bisa, dan kemungkinan besar akan membahayakan masa depannya.
Industri perikanan akan meningkatkan produksi sebesar 16,5 juta ton--sekitar seperlima dari total saat ini--dan menghasilkan tambahan 32 miliar dolar AS per tahun.
Penggunaan quota di perairan Amerika, stok perikanan telah melimpah 25 persen, pada tahun 2000, turun menjadi 16 persen di tahun 2015.
Menurut Komisi Global Ocean, Indonesia menduduki peringkat ke-8 dalam kelas high fishing countries setelah Jepang, Korea, Taiwan, Spanyol, Amerika Serikat, Chili, dan China, dengan rata-rata penangkapan per tahun antara tahun 2000-2010 mencapai 9 miliar dolar AS.
Pentingnya dunia perikanan Indonesia ini tampaknya sudah tercium Menteri Susi sejak lama.
"Indonesia sudah merasakan pentingnya reformasi dan sekarang tetap sedang dalam proses reformasi perikanan di dalam manajemen perikanan tangkap. Semoga hasilnya akan terlihat baik di masa mendatang," harap Susi.

0 Response to "Menteri Susi: Menjaga Dunia Perikanan Perlu Reformasi dengan Disiplin yang Tinggi"
Posting Komentar